Who Knows Who Am I?
Pagi cerah menyambut pertemuan di lapangan basket ini.
seperti biasa Eagle House melaksanakan nyabtuan dengan agenda berkumpul dengan
keluarga kami dari SA Malang yang bernama Asrul dan Laila. Maaf kalau salah
pengejaan nama. Hehehe. Disitu juga kami dijelaskan akan adanya lomba untuk
memperingati Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada hari selasa depan. Acara ini
dikoordiniroleh Rohis Nurul Mujahid ASBI Bogor. Lomba yang diadakan adalah
tartil dan lomba cerdas cermat. Pada saat itu aku memang sedikit tertarik
dengan lomba tartil. Karena dulu aku sempat belajar tartil, tilawah, dan
qori’ah dengan Ustadz Ashabul Yamin M,Pdi. Tapi niat ku urungkan untuk
membiarkan anak lain mendaftarkan dirinya. Malam harinya tiba-tiba Khalid (House
Captain Eagle) memanggilku setelah aku mengambil makan dan meletakkannya di
meja dekat Tv. Khalid menawariku untuk mewakili Eagle di lomba membaca tartil.
Dengan sedikit linglung sambil memandangi beberapa Eagle di situ, aku menjawab
iya untuk tawaran itu. Makan kulanjutkan sambil menunggu Tante Vara untuk
membicarakan projek yang aku rencanakan. Sebagai penjelas, Tante Vara adalah
sahabatku.
Tak ada persiapan khusus untuk mempersiapkan perlombaan ini.
malam itu hanya habis untuk rapat bersama Septi dan Tante Vara. Rapat
berlangsung di KM3, karena Septi harus mengurusi dagangannya bersama Silvi. Martabak
adalah dagangan mereka. Malam itu aku dapat martabak gratis dari Tante Vara.
Karena kami langsung kenyang, walau belum habis semua. Rapat selesai sekitar jam
9 malam. Karena waktu itu malam minggu, kami bisa masuk dorm jam 10 malam.
Belum bisa menghabiskan martabak itu, kami memutuskan untuk jalan-jalan
keliling Kinasih. Bisa disebut juga Thawaf oleh anak ASBI. Hitung-hitung siapa
tau kami lapar lagi dan bisa menghaabiskan martabak itu setelah kami keliling
beberapa kali sambil menceritakan hal-hal yang bisa diceritakan. Pada malam itu
memang aku sedang pengen melihat seseorang. Sayangnya dia pulang untuk liburan
hari raya di rumahnya. Setelah kami merasa mulai lapar. Kami duduk di pendopo
dan memakan kembali sisa martabak yang belum kami makan. Di sisi lain kami
duduk terdapat beberapa anak bersama Mr. Wawan dan Mr. Asep sedang
bercengkrama. Setelah peluit berbunyi sekitar jam 10 malam kami kembali ke dorm
masing-masing. Setelah aku di kamar, ternyata hanya ada Husairi (teman
sekamarku) disana. Edo (teman sekamar dan pemilik laptop ini) sedang mengikuti
SAT class preparation. Hadi Gongchan (teman sekamarku yang lain) mungkin juga
sedang berada di kamar hornbill. Seperti itulah dia. Orang yang jarang di
kamar. Setelah itu aku menghabiskan malam untuk menonton film di laptop Edo.
Mungkin sekitar jam 12 lebih 15 menit aku menyelesaikan film dan tidur.
Keesokan harinya, tiba waktu
lomba tartil diadakan. Bangun pagi aku merasakan ngilu di gigi gerahamku.
Ternyata benar, gigiku sedikit goyang. Aku sedikit memiliki pikiran bahwa ngilu
ini akan mengganggu performaku di lomba tartil nanti. Setelah aku bangun, aku
membersihkan muka bersipa-siap untuk makan pagi. Setelah makan pagi selesai,
aku pergi ke lapangan basket untuk bermain basket. Ini aku lakukan untuk
memantapkan pernapasanku sehingga pada saat mengikuti lomba tartil nafasku
tidak tersengal-sengal. Setelah selesai bermain basket, aku kembali ke kamar
untuk mandi dan mempersiapkan diriku menghadapi lomba nanti. Setelah selesai
mandi aku Sholat Dhuha sebanyak delapan rakaat dibarengi dengan do’a agar aku
diberikan kemudahan dalam menjalankan lomba nanti. Setelah Sholat Dhuha aku
pergi ke kasur untuk sedikit melatih surat yang ingin aku baca nanti. Yaitu
Al-Qur’an Surat At-Tiin. Setelah selesai membaca beberapa kali dengan suara
lantang, aku meneruskan dengan sedikit meditasi dan merillekskan diri. Di situ
juga aku afirmasi dan visualisasikan bahwa aku sang juara dan dapat melakukan
yang terbaik pada lomba nanti. Setelah selesai aku berangkat ke melati dengan
memakai sarung, baju, dan peci yang serasi berwarna abu-abu biru. Aku juga
membawa mug Hadi sebagai tempat air putih untuk aku minum sebagai penawar rasa
grogi.
Setelah sampai di bougenvile
(hall tempat diselenggarakan lomba itu), aku melihat tempat itu masih sepi.
Hanya ada panitia yang masih sibuk mempersiapkan lomba di hari itu. Aku hanya
melihat dan membayangkan skema bagaimana lomba itu akan terjadi. Septi datang
menhampiriku dan memberitahukan ku bahwa dia menggatikan Indah untuk lomba
tartil karena Indah berhalangan mengikuti ini. Ini untuk membiasakan otakku
agar tidak gugup saat berada di depan untuk membaca Al-Qur’an secara tartil
(baik dan benar pelafalannya). Sekitar setengah jam setelah itu, lomba dimulai.
Para peserta termasuk aku diundang pembawa acara untuk maju dan duduk di kursi
yang telah disediakan di depan. Di sampingku ada Ari (perwakilan dari dolphin).
Tangannya dingin karena gugup untuk maju didepan. Karena tidak tahan untuk
menahan kencing aku pergi ke kamar mandi. Setelah kembali dan duduk di kursiku
aku masih menunggu giliran. Karena urutan diambil dari urutan bendera,
kebetulan Eagle adalah urutan ke-dua terakhir. Jadi harus sabar menanti.
Setelah hampir waktuku maju ke depan. Aku merasa ingin pergi ke toilet kembali.
Mungkin ini karena aku terlalu banyak minum sebelum ini. Aku pun pergi ke
toilet dan wudhu sekalian. Ternyata sewaktu aku kembali dari toilet, Rizky
(perwakilan Dove House) masih membaca ayatnya.
Inilah waktuku. Dengan percaya
diri aku maju ke depan dan duduk dikursi merah yang disediakn oleh panitia.
Dengan lantang dan jelas aku lantunkan tartil Surat At-Tiin. Aku yang membaca
bertama sesuai dengan perjanjianku dengan Septi beberapa saat sebelum kita
mendapat giliran. Tidak seberat yang kupikirkan ternyata. Aku pikir membacakju
sukses, walaupun masih terasa agak terburu-buru dalam membaca Surat itu.
Setelah selesai aku kembali ke tempat dudukku dan menunggu house terakhir. Yaitu
Hornbill House. Setelah mereka selesai mendapat giliran, kita diberi waktu lima
menit untuk istirahat. Sambil mengafirmasikan dalam pikiranku bahwa aku masuk
ke babak selanjutnya aku menantipanitia menyebutkan kelima ikhwan yang masuk ke
babak selanjutnya. Istirahat selesai, panitia mengumumkan para finalis lomba
tartil saat itu. Dengan terus mengafirmasikan dalam hati bahwa aku adalah salah
satunya, aku mendengarkan bahwa namaku disebut sebagai orang ke-dua yang masuk
ke- babak selanjutnya. Aku berdiri dan dipersilahkan duduk di kursi yang telah
disediakan.
Tak lama kemudian babak ke-dua
dilaksanakan. Tata caranya adalah anggota house yang ada di situ harus menebak
surat apa yang dibacakan oleh sang perwkilannya. Bila benar mendapatkan poin
dua puluh liam, dan bila salah mendapatkan nilai nol. Aku mendapatkan giliran
ke-dua setelah Wahyudi (perwakilan dari Shark House). Ternyata setelah
mengambil kertas undiannya, aku mendapatkan tiga Surat. Surat-Surat itu adalah
Al-Ghosiyah ayat 14-16 dan dua surat lainnya. Dalam kesempatan pertama,
ternyata anggota Eagle yang lain tidak bisa menebak surat yang pertama. Memang
menuruatku surat itu adalah surat yang agak susah ditebak. Apalagi ayat yang
dibacakan adalah beberapa ayat terakhir. Karena tidak ada klu sama sekali untuk
menebaknya. Tettapi untung saja dua ayat lain berhasil tertebak dengan baik.
Terimakasih Eagle, yang telah menyemangati dan berhasil menjawab Surat-Surat
itu. Sehingga Eagle dapat skor sebanyak lima puluh skor. Lomba tartil selesai
sekitar jam dua belas lebih lima belas menit. Panitia mengumumkan bahwa
pengumumaan pemenang akan diberikan setelah perlombaan cerdas cermat selesai.
Setelah itu aku pergi untuk makan siang dan istirahat di kamarku.
Saat itu aku sedang menonton film
india di ruang makan, saat Hpku bordering menandakan ada SMS yang masuk.
Ternyata SMS itu dari Riri (anggota Eagle yang aku beri pesan untuk mengirim
SMS kepadaku apabila waktu pengumuman akan diadakan). Aku pun pergi ke atas
untuk tahu siapa pemenang lomba-lomba yang diadakan hari itu. Ke atas, karena
Bougenvile berada di dua lantai atas ruang makan. Sampai di sana, ternyata
babak final cerdas cermat masih berlangsung. Sayangnya, kelompok Eagle tidak
sampai ke babak final. Tapi, tetap semangat ya! Setelah babak final selesai,
Komodo House keluar sebagai pemenang dari cerdas cermat. Dengban masih
mengafirmasi diriku sendiri sebagai pemenang, aku mendengarkan pengumuman hasil
lomba tartil. Pembawa acara menyerukan “Juara tiga adalah Rizky dari Dove
House”, “Juara dua adalah Khoirul daari Eagle Hosue”. Dengan bangga aku menuju
ke depan dan menerima hadiah penghargaan yang disampaikan oleh Ibu Laily
sebagai Pembina Rohis ASBI. Serta juara satu jatuh kepada Wahyudi dari Shark
yang digantikan Deka karena tidak hadir pada saat pemberian hadiah itu. Setelah
ku buka di kamar hadiahnya adalah kaligrafi bertuliskan Allah SWT dan Muhammad
SAW dalam Bahasa Arab. Terima kasih Rohis Nurul Mujahid ASBI Bogor.



