Minggu, 13 Oktober 2013


Who Knows Who Am I?





Pagi cerah menyambut pertemuan di lapangan basket ini. seperti biasa Eagle House melaksanakan nyabtuan dengan agenda berkumpul dengan keluarga kami dari SA Malang yang bernama Asrul dan Laila. Maaf kalau salah pengejaan nama. Hehehe. Disitu juga kami dijelaskan akan adanya lomba untuk memperingati Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada hari selasa depan. Acara ini dikoordiniroleh Rohis Nurul Mujahid ASBI Bogor. Lomba yang diadakan adalah tartil dan lomba cerdas cermat. Pada saat itu aku memang sedikit tertarik dengan lomba tartil. Karena dulu aku sempat belajar tartil, tilawah, dan qori’ah dengan Ustadz Ashabul Yamin M,Pdi. Tapi niat ku urungkan untuk membiarkan anak lain mendaftarkan dirinya. Malam harinya tiba-tiba Khalid (House Captain Eagle) memanggilku setelah aku mengambil makan dan meletakkannya di meja dekat Tv. Khalid menawariku untuk mewakili Eagle di lomba membaca tartil. Dengan sedikit linglung sambil memandangi beberapa Eagle di situ, aku menjawab iya untuk tawaran itu. Makan kulanjutkan sambil menunggu Tante Vara untuk membicarakan projek yang aku rencanakan. Sebagai penjelas, Tante Vara adalah sahabatku.
Tak ada persiapan khusus untuk mempersiapkan perlombaan ini. malam itu hanya habis untuk rapat bersama Septi dan Tante Vara. Rapat berlangsung di KM3, karena Septi harus mengurusi dagangannya bersama Silvi. Martabak adalah dagangan mereka. Malam itu aku dapat martabak gratis dari Tante Vara. Karena kami langsung kenyang, walau belum habis semua. Rapat selesai sekitar jam 9 malam. Karena waktu itu malam minggu, kami bisa masuk dorm jam 10 malam. Belum bisa menghabiskan martabak itu, kami memutuskan untuk jalan-jalan keliling Kinasih. Bisa disebut juga Thawaf oleh anak ASBI. Hitung-hitung siapa tau kami lapar lagi dan bisa menghaabiskan martabak itu setelah kami keliling beberapa kali sambil menceritakan hal-hal yang bisa diceritakan. Pada malam itu memang aku sedang pengen melihat seseorang. Sayangnya dia pulang untuk liburan hari raya di rumahnya. Setelah kami merasa mulai lapar. Kami duduk di pendopo dan memakan kembali sisa martabak yang belum kami makan. Di sisi lain kami duduk terdapat beberapa anak bersama Mr. Wawan dan Mr. Asep sedang bercengkrama. Setelah peluit berbunyi sekitar jam 10 malam kami kembali ke dorm masing-masing. Setelah aku di kamar, ternyata hanya ada Husairi (teman sekamarku) disana. Edo (teman sekamar dan pemilik laptop ini) sedang mengikuti SAT class preparation. Hadi Gongchan (teman sekamarku yang lain) mungkin juga sedang berada di kamar hornbill. Seperti itulah dia. Orang yang jarang di kamar. Setelah itu aku menghabiskan malam untuk menonton film di laptop Edo. Mungkin sekitar jam 12 lebih 15 menit aku menyelesaikan film dan tidur.
Keesokan harinya, tiba waktu lomba tartil diadakan. Bangun pagi aku merasakan ngilu di gigi gerahamku. Ternyata benar, gigiku sedikit goyang. Aku sedikit memiliki pikiran bahwa ngilu ini akan mengganggu performaku di lomba tartil nanti. Setelah aku bangun, aku membersihkan muka bersipa-siap untuk makan pagi. Setelah makan pagi selesai, aku pergi ke lapangan basket untuk bermain basket. Ini aku lakukan untuk memantapkan pernapasanku sehingga pada saat mengikuti lomba tartil nafasku tidak tersengal-sengal. Setelah selesai bermain basket, aku kembali ke kamar untuk mandi dan mempersiapkan diriku menghadapi lomba nanti. Setelah selesai mandi aku Sholat Dhuha sebanyak delapan rakaat dibarengi dengan do’a agar aku diberikan kemudahan dalam menjalankan lomba nanti. Setelah Sholat Dhuha aku pergi ke kasur untuk sedikit melatih surat yang ingin aku baca nanti. Yaitu Al-Qur’an Surat At-Tiin. Setelah selesai membaca beberapa kali dengan suara lantang, aku meneruskan dengan sedikit meditasi dan merillekskan diri. Di situ juga aku afirmasi dan visualisasikan bahwa aku sang juara dan dapat melakukan yang terbaik pada lomba nanti. Setelah selesai aku berangkat ke melati dengan memakai sarung, baju, dan peci yang serasi berwarna abu-abu biru. Aku juga membawa mug Hadi sebagai tempat air putih untuk aku minum sebagai penawar rasa grogi.
Setelah sampai di bougenvile (hall tempat diselenggarakan lomba itu), aku melihat tempat itu masih sepi. Hanya ada panitia yang masih sibuk mempersiapkan lomba di hari itu. Aku hanya melihat dan membayangkan skema bagaimana lomba itu akan terjadi. Septi datang menhampiriku dan memberitahukan ku bahwa dia menggatikan Indah untuk lomba tartil karena Indah berhalangan mengikuti ini. Ini untuk membiasakan otakku agar tidak gugup saat berada di depan untuk membaca Al-Qur’an secara tartil (baik dan benar pelafalannya). Sekitar setengah jam setelah itu, lomba dimulai. Para peserta termasuk aku diundang pembawa acara untuk maju dan duduk di kursi yang telah disediakan di depan. Di sampingku ada Ari (perwakilan dari dolphin). Tangannya dingin karena gugup untuk maju didepan. Karena tidak tahan untuk menahan kencing aku pergi ke kamar mandi. Setelah kembali dan duduk di kursiku aku masih menunggu giliran. Karena urutan diambil dari urutan bendera, kebetulan Eagle adalah urutan ke-dua terakhir. Jadi harus sabar menanti. Setelah hampir waktuku maju ke depan. Aku merasa ingin pergi ke toilet kembali. Mungkin ini karena aku terlalu banyak minum sebelum ini. Aku pun pergi ke toilet dan wudhu sekalian. Ternyata sewaktu aku kembali dari toilet, Rizky (perwakilan Dove House) masih membaca ayatnya.

Inilah waktuku. Dengan percaya diri aku maju ke depan dan duduk dikursi merah yang disediakn oleh panitia. Dengan lantang dan jelas aku lantunkan tartil Surat At-Tiin. Aku yang membaca bertama sesuai dengan perjanjianku dengan Septi beberapa saat sebelum kita mendapat giliran. Tidak seberat yang kupikirkan ternyata. Aku pikir membacakju sukses, walaupun masih terasa agak terburu-buru dalam membaca Surat itu. Setelah selesai aku kembali ke tempat dudukku dan menunggu house terakhir. Yaitu Hornbill House. Setelah mereka selesai mendapat giliran, kita diberi waktu lima menit untuk istirahat. Sambil mengafirmasikan dalam pikiranku bahwa aku masuk ke babak selanjutnya aku menantipanitia menyebutkan kelima ikhwan yang masuk ke babak selanjutnya. Istirahat selesai, panitia mengumumkan para finalis lomba tartil saat itu. Dengan terus mengafirmasikan dalam hati bahwa aku adalah salah satunya, aku mendengarkan bahwa namaku disebut sebagai orang ke-dua yang masuk ke- babak selanjutnya. Aku berdiri dan dipersilahkan duduk di kursi yang telah disediakan.
Tak lama kemudian babak ke-dua dilaksanakan. Tata caranya adalah anggota house yang ada di situ harus menebak surat apa yang dibacakan oleh sang perwkilannya. Bila benar mendapatkan poin dua puluh liam, dan bila salah mendapatkan nilai nol. Aku mendapatkan giliran ke-dua setelah Wahyudi (perwakilan dari Shark House). Ternyata setelah mengambil kertas undiannya, aku mendapatkan tiga Surat. Surat-Surat itu adalah Al-Ghosiyah ayat 14-16 dan dua surat lainnya. Dalam kesempatan pertama, ternyata anggota Eagle yang lain tidak bisa menebak surat yang pertama. Memang menuruatku surat itu adalah surat yang agak susah ditebak. Apalagi ayat yang dibacakan adalah beberapa ayat terakhir. Karena tidak ada klu sama sekali untuk menebaknya. Tettapi untung saja dua ayat lain berhasil tertebak dengan baik. Terimakasih Eagle, yang telah menyemangati dan berhasil menjawab Surat-Surat itu. Sehingga Eagle dapat skor sebanyak lima puluh skor. Lomba tartil selesai sekitar jam dua belas lebih lima belas menit. Panitia mengumumkan bahwa pengumumaan pemenang akan diberikan setelah perlombaan cerdas cermat selesai. Setelah itu aku pergi untuk makan siang dan istirahat di kamarku.
Saat itu aku sedang menonton film india di ruang makan, saat Hpku bordering menandakan ada SMS yang masuk. Ternyata SMS itu dari Riri (anggota Eagle yang aku beri pesan untuk mengirim SMS kepadaku apabila waktu pengumuman akan diadakan). Aku pun pergi ke atas untuk tahu siapa pemenang lomba-lomba yang diadakan hari itu. Ke atas, karena Bougenvile berada di dua lantai atas ruang makan. Sampai di sana, ternyata babak final cerdas cermat masih berlangsung. Sayangnya, kelompok Eagle tidak sampai ke babak final. Tapi, tetap semangat ya! Setelah babak final selesai, Komodo House keluar sebagai pemenang dari cerdas cermat. Dengban masih mengafirmasi diriku sendiri sebagai pemenang, aku mendengarkan pengumuman hasil lomba tartil. Pembawa acara menyerukan “Juara tiga adalah Rizky dari Dove House”, “Juara dua adalah Khoirul daari Eagle Hosue”. Dengan bangga aku menuju ke depan dan menerima hadiah penghargaan yang disampaikan oleh Ibu Laily sebagai Pembina Rohis ASBI. Serta juara satu jatuh kepada Wahyudi dari Shark yang digantikan Deka karena tidak hadir pada saat pemberian hadiah itu. Setelah ku buka di kamar hadiahnya adalah kaligrafi bertuliskan Allah SWT dan Muhammad SAW dalam Bahasa Arab. Terima kasih Rohis Nurul Mujahid ASBI Bogor.