I Am “Future”
Leader: Mohon Dihapus Kata yang Bertanda Petik
Bukan
bermaksud untuk melenceng dari tema yang diberikan. Judul di atas muncul karena
pertanyaan yang sedikit membuat saya berpikir: “apakah harus di masa depan saya
bisa jadi pemimpin?”. Jadi di sini saya bermaksud berbagi beberapa pemikiran
mengenai pertanyaan yang muncul tadi. Serta belajar kepada contoh kisah anak
muda. Anak muda yang mendeklarasikan dirinya adalah pemimpin. Serta telah
diakui oleh dunia sebagai pemimpin.
Menurut
beberapa kamus menyatakan arti pimpin dan pemimpin dengan arti klise. Sebagian
besar menyatakan pimpin adalah berada di depan. Di depan untuk menjadikan orang
lain berfungsi dengan baik. Presiden memfungsikan suatu negara. Bila dia
memimpin sekelompok pendaki, maka dia mengfungsikan para pendaki agar sampai ke
puncak gunung Apabila dia memimpin kesebelasan bola, maka dia harus bisa
mengfungsikan dari posisi keeper
sampai striker. Tak ada bedanya
apabila dia seorang anak kecil yang memimpin menyanyi di TKnya. Dia juga di
depan memimpin temannya. Sekarang kembali kepada pribadi kita sendiri. Apakah
anak pemimpin menyanyi bisa disebut sebagai pemimpin. Seperti halnya kita
menyebut presiden kita sebagai seorang pemimpin. Kita punya jawaban kita
sendiri dan pasti dalam hati Anda bergumam “iya ya, mereka juga pemimpin!”.
Tidak
perlu nanti kita memimpin. Memulai kepemimpinan bukan hanya dari hal besar.
Banyak orang bilang, mulalilah sesuatu dari hal yang kecil. Begitu juga
memimpin. Kita bisa memulainya dengan hal yang kecil. Mari kita bahas apa saja
contoh kecil yang bisa dilakukan untuk menjadi pemimpin. Bila Anda seorang
pelajar, pimpinlah kelompok belajar Anda untuk menyelesaikan tugas dari guru.
Anda yang seorang kakak, pimpinlah adik Anda untuk tidak malas mengerjakan
pekerjaan rumahnya. Anda yang seorang pemusik, pimpin orang untuk menyukai
musik Anda. Atau, Anda punya hal yang lebih kecil lagi untuk mempraktikan
kepemimpinan? Silahkan dihayati ya. Kalau ada bisa di-share ke twitter saya @khoirul25 atau berkicau sajalah di blog
saya melalui kolom komentar.
Sudah
banyak orang yang membuktikan bahwa Anda bisa menjadi pemimpin sekarang, bukan
di masa depan. Orang pertama adalah figur pemimpin yang sangat saya kagumi. Dia
adalah Kak Iman Usman. Pertama bertemu pada acara sharing di Uakademi Siswa
Bangsa pada Tahun 2011. Itulah kali pertama saya mengagumi seorang sosok
pemimpin. Pada saat itu dia adalah salah satu pendiri dan presiden IFL (Indonesian Future Leaders). Yang
dengar-dengar sekarang sekertariatnya berada di USBI. Diusianya yang masih
muda, Kak Iman telah menghabiskan banyak waktunya untuk memperjuangkan hak-hak
anak. Remaja berusia 17 tahun ini terlibat dalam berbagai organisasi dan
aktivitas, mulai dari kampanye peduli HIV/AIDS, sampai promosi daur ulang. Sampai
terbentuknya IFL beberapa tahun yang lalu. Nama Kak Iman pernah kusebut. Pada
kala itu para interviewer dari
program yang saya ikuti Young Scholar
Indonesia 2013 memberikan beberapa pertanyaan:
“menurut Anda
siapakah pemimpin muda yang berkompeten di zaman ini?”.
“Kak Iman
Usman”, jawabku dengan spontan.
“Siapa dia?
Kenapa dia?”, tanya Pak Rudy salah satu interviewer.
“Karena Kak
Iman telah bisa menjadi pemimpin para pemuda sebagai seorang pemuda. Yang bisa
kita lihat melalui kepemimpinannya di Indonesian
Future Leaders. Dia memilih memimpin sekarang dari pada memimpin nanti”.
Jelasku.
Pemimpin muda selanjutnya adalah Suci Lestari. Setelah selamat dari tsunami di Aceh,
Tari telah menuangkan sebagian besar tenaga dan upayanya untuk menolong
anak-anak lain seperti dia. Dia menjadi anak yatim sejak bencana tersebut,
tetapi semangat gadis 16 tahun membuat orang sekitarnya mempercayainya dalam
berbagai kegiatan, terutama dalam menyuarakan hak anak. Tari dicalonkan oleh
Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Banda Aceh, sebuah LSM yang
mempromosikan hak anak dan aktif bekerja pada perlindungan anak, khususnya
mendampingi anak korban tsunami di Aceh. Sebagai duta anak PKPA Aceh, anak
tertua dari tiga bersaudara mengorganisir kegiatan bersama pengembangan bakat,
pemulihan psikososial anak korban tsunami dan diskusi reguler tentang hak-hak
anak pada kelompok dampingan. Ia juga Pendidik Sebaya untuk kesehatan
reproduksi remaja di sekolah menengah pertama dan atas, serta staff redaksi
Ceudah (media kreasi dan informasi remaja).
Satu lagi kisah seorang pemimpin yang selalu berkata “sekarang”
bukan “nanti”, Luke Thomas namanya. Kalau di Indonesia, Chef Juna, Chef Arnold,
Yuda Bustara bahkan Chef Degan bisa menjadi salah satu contoh nyata bagaimana
pria tampan dan lihai di dapur akan banyak dikagumi wanita. Sosok macho dengan
lihainya meracik dan memasak dengan teliti, pasti akan mengundang decak kagum. Anda mungkin tidak percaya bahwa
ia baru berumur 19 tahun. 19 tahun dan sudah mempunyai restoran sendiri dengan
Luke sendiri sebagai kepala koki di dapurnya. Luke memang disebut oleh
DailyMail Inggris sebagai koki kepala termuda. Ia yang juga disebut sebagai
Justin Biebernya dapur ini sudah mulai memasak pada umur 12 tahun. Ia pernah
memasak untuk beberapa hotel terkenal dan untuk kerajaan. Dengan gaya makanan
yang sering disebut dengan fine dining, ia memang seorang yang sangat ambisius.
Di Indonesia juga ada anak seperti dia. Pernah saya membaca dari buku Mas Billy
Boen bahwa salah satu muridnya yang belum genap 13 Tahun (bila saya tidak salah
ingat) telah menjadi koki dan memiliki restorannya sendiri. Ayo, siapa lagi
yang ingin menunda kepemimpinannya? Saya harap bukan Anda.
Jadi, untuk menjadi pemimpin Anda tidak harus menunggu sampai di
masa depan. Mulai sekarang juga tidak haram, mengapa harus ditunda? Tapi ingat,
pemimpin yang besar selalu pernah belajar. Jadi jangan bilang Anda langsung
bisa menjadi pemimpin besar apabila Anda belum belajar menjadi pemimpin kecil.
Mana mungkin Anda akan bisa memimpin sekawanan gajah apabila Anda belum bisa
memimpin sebaris semut. You are leader
now is definite , you are future leader is absolute.
USBI, Young Leaders,