Jumat, 21 Maret 2014

Future Leaders Never Excellent



Future Leaders Never Excellent
By: Khoirul Rohman
                “Dik, cita-cita adik ingin menjadi apa?” tanya guru TKku dua puluh tahun yang lalu.
                “Iru mau jadi: presiden, jendral, penulis, dokter, guru, pengusaha, dan pemain musik.” Jawabku dengan sumringah.
                “Wah, adik punya banyak sekali mimpi ya. Semoga bisa tercapai semua. Amin.” Jawabnya sambil mengelus rambutku dan berlalu pergi.
                “AMIIIIINNNNNN!!!” jawabku sambil mengusap kedua tanganku ke muka pertanda selesai berdo’a.
                Sejak TK aku telah suka bermain gitar mainan yang dibelikan ayahku. Ketika itu aku berulang tahun yang ke-3. Karena melihat ketertarikanku pada gitar mainan itu, papaku mengerti sesuatu. Bahwa itu adalah passion-ku. Jadi pada umur lima tahun, aku mulai dileskan bermain gitar. Setiap sore tiga kali seminggu. Aku tidak keberatan, karena itu juga kemauanku. Karena itu juga aku sudah mahir bermain gitar pada umurku yang ke-8.
                Karena ketekunan ku serta dukungan keluarga, aku meraih beberapa pencapaian. Beberapa kali aku menang peelombaan bermain gitar. Dari tingkat RT sampai internasional. Beberapa kali aku mendapatkan penghargaan internasional. Itu karena di umurku yang masih kecil tetapi sudah sangat mahir dalam memainkan gitar. Semua keluarga dan orang yang bersamaku sangat bangga terhadap prestasiku ini.
                Tak diduga beberapa perusahaan music production melirik kelihaianku bermain gitar. Itu awal mulai aku bisa memiliki konser gitarku sendiri. Awal mula dari konser kecil-kecilan. Sampai pada umurku 17 Tahun, aku bisa tampil pada konser internasional di Amerika. Aku juga diundang pada pembukaa kapal termewah Titanic Dua pada beberapa tahun yang lalu.
                Nah mari kembali pada masa kanak-kanakku. Aku masih memiliki cita-cita segudang yang kuceritakan tadi. Tapi karena kenyamananku di permainan gitar. Aku tidak bisa mengasah kepemimpinanku di bidang-bidang yang aku cita-citakan. Serasa aku sudah menjadi presiden di duniaku ini. Telah memiliki prajurit pemusik sebagai aku jendralnya. Sebagai penulis musik yang indah. Sebagai dokter musik yang mengerti para pendengarnya. Sebagai guru para pemusi lain. Sebagai pengusaha penciptaan ekonomi yang lebih baik lewat musik. Jadi, inilah passion-ku dan inilah duniaku.
                Jadi, untuk menjadi pemimpin masa depan bukan masalah Anda harus memiliki semua hal. Jadilah pemimpin di dunia passion Anda. Jadilah pemimpin yang fokus, mengetahui dimana Anda harus berada, dan bercita-cita besar. Karena pemimpin masa depan tidak ada yang sempurna.

#USBI #FUTURELEADERS

Kamis, 20 Maret 2014

#USBI #FutureLeaders


 I Am  Future” Leader: Mohon Dihapus Kata yang Bertanda Petik

                Bukan bermaksud untuk melenceng dari tema yang diberikan. Judul di atas muncul karena pertanyaan yang sedikit membuat saya berpikir: “apakah harus di masa depan saya bisa jadi pemimpin?”. Jadi di sini saya bermaksud berbagi beberapa pemikiran mengenai pertanyaan yang muncul tadi. Serta belajar kepada contoh kisah anak muda. Anak muda yang mendeklarasikan dirinya adalah pemimpin. Serta telah diakui oleh dunia sebagai pemimpin.
                Menurut beberapa kamus menyatakan arti pimpin dan pemimpin dengan arti klise. Sebagian besar menyatakan pimpin adalah berada di depan. Di depan untuk menjadikan orang lain berfungsi dengan baik. Presiden memfungsikan suatu negara. Bila dia memimpin sekelompok pendaki, maka dia mengfungsikan para pendaki agar sampai ke puncak gunung Apabila dia memimpin kesebelasan bola, maka dia harus bisa mengfungsikan dari posisi keeper sampai striker. Tak ada bedanya apabila dia seorang anak kecil yang memimpin menyanyi di TKnya. Dia juga di depan memimpin temannya. Sekarang kembali kepada pribadi kita sendiri. Apakah anak pemimpin menyanyi bisa disebut sebagai pemimpin. Seperti halnya kita menyebut presiden kita sebagai seorang pemimpin. Kita punya jawaban kita sendiri dan pasti dalam hati Anda bergumam “iya ya, mereka juga pemimpin!”.
                Tidak perlu nanti kita memimpin. Memulai kepemimpinan bukan hanya dari hal besar. Banyak orang bilang, mulalilah sesuatu dari hal yang kecil. Begitu juga memimpin. Kita bisa memulainya dengan hal yang kecil. Mari kita bahas apa saja contoh kecil yang bisa dilakukan untuk menjadi pemimpin. Bila Anda seorang pelajar, pimpinlah kelompok belajar Anda untuk menyelesaikan tugas dari guru. Anda yang seorang kakak, pimpinlah adik Anda untuk tidak malas mengerjakan pekerjaan rumahnya. Anda yang seorang pemusik, pimpin orang untuk menyukai musik Anda. Atau, Anda punya hal yang lebih kecil lagi untuk mempraktikan kepemimpinan? Silahkan dihayati ya. Kalau ada bisa di-share ­ke twitter saya @khoirul25 atau berkicau sajalah di blog saya melalui kolom komentar.
                Sudah banyak orang yang membuktikan bahwa Anda bisa menjadi pemimpin sekarang, bukan di masa depan. Orang pertama adalah figur pemimpin yang sangat saya kagumi. Dia adalah Kak Iman Usman. Pertama bertemu pada acara sharing di Uakademi Siswa Bangsa pada Tahun 2011. Itulah kali pertama saya mengagumi seorang sosok pemimpin. Pada saat itu dia adalah salah satu pendiri dan presiden IFL (Indonesian Future Leaders). Yang dengar-dengar sekarang sekertariatnya berada di USBI. Diusianya yang masih muda, Kak Iman telah menghabiskan banyak waktunya untuk memperjuangkan hak-hak anak. Remaja berusia 17 tahun ini terlibat dalam berbagai organisasi dan aktivitas, mulai dari kampanye peduli HIV/AIDS, sampai promosi daur ulang. Sampai terbentuknya IFL beberapa tahun yang lalu. Nama Kak Iman pernah kusebut. Pada kala itu para interviewer dari program yang saya ikuti Young Scholar Indonesia 2013 memberikan beberapa pertanyaan:
“menurut Anda siapakah pemimpin muda yang berkompeten di zaman ini?”.
“Kak Iman Usman”, jawabku dengan spontan.
“Siapa dia? Kenapa dia?”, tanya Pak Rudy salah satu interviewer.
“Karena Kak Iman telah bisa menjadi pemimpin para pemuda sebagai seorang pemuda. Yang bisa kita lihat melalui kepemimpinannya di Indonesian Future Leaders. Dia memilih memimpin sekarang dari pada memimpin nanti”. Jelasku.
Pemimpin muda selanjutnya adalah Suci Lestari. Setelah selamat dari tsunami di Aceh, Tari telah menuangkan sebagian besar tenaga dan upayanya untuk menolong anak-anak lain seperti dia. Dia menjadi anak yatim sejak bencana tersebut, tetapi semangat gadis 16 tahun membuat orang sekitarnya mempercayainya dalam berbagai kegiatan, terutama dalam menyuarakan hak anak. Tari dicalonkan oleh Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Banda Aceh, sebuah LSM yang mempromosikan hak anak dan aktif bekerja pada perlindungan anak, khususnya mendampingi anak korban tsunami di Aceh. Sebagai duta anak PKPA Aceh, anak tertua dari tiga bersaudara mengorganisir kegiatan bersama pengembangan bakat, pemulihan psikososial anak korban tsunami dan diskusi reguler tentang hak-hak anak pada kelompok dampingan. Ia juga Pendidik Sebaya untuk kesehatan reproduksi remaja di sekolah menengah pertama dan atas, serta staff redaksi Ceudah (media kreasi dan informasi remaja).
Satu lagi kisah seorang pemimpin yang selalu berkata “sekarang” bukan “nanti”, Luke Thomas namanya. Kalau di Indonesia, Chef Juna, Chef Arnold, Yuda Bustara bahkan Chef Degan bisa menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pria tampan dan lihai di dapur akan banyak dikagumi wanita. Sosok macho dengan lihainya meracik dan memasak dengan teliti, pasti akan mengundang decak kagum. Anda mungkin tidak percaya bahwa ia baru berumur 19 tahun. 19 tahun dan sudah mempunyai restoran sendiri dengan Luke sendiri sebagai kepala koki di dapurnya. Luke memang disebut oleh DailyMail Inggris sebagai koki kepala termuda. Ia yang juga disebut sebagai Justin Biebernya dapur ini sudah mulai memasak pada umur 12 tahun. Ia pernah memasak untuk beberapa hotel terkenal dan untuk kerajaan. Dengan gaya makanan yang sering disebut dengan fine dining, ia memang seorang yang sangat ambisius. Di Indonesia juga ada anak seperti dia. Pernah saya membaca dari buku Mas Billy Boen bahwa salah satu muridnya yang belum genap 13 Tahun (bila saya tidak salah ingat) telah menjadi koki dan memiliki restorannya sendiri. Ayo, siapa lagi yang ingin menunda kepemimpinannya? Saya harap bukan Anda.
Jadi, untuk menjadi pemimpin Anda tidak harus menunggu sampai di masa depan. Mulai sekarang juga tidak haram, mengapa harus ditunda? Tapi ingat, pemimpin yang besar selalu pernah belajar. Jadi jangan bilang Anda langsung bisa menjadi pemimpin besar apabila Anda belum belajar menjadi pemimpin kecil. Mana mungkin Anda akan bisa memimpin sekawanan gajah apabila Anda belum bisa memimpin sebaris semut. You are leader now is definite , you are future leader is absolute.

 USBI, Young Leaders,